x maribahas.com skyscraper
x maribahas.com skyscraper

Di Balik Lensa dan Tembok Bersejarah: Melihat Sisi Humanis TNI Lewat "Trisula Garda Nusantara" di Kota Lama Surabaya

Avatar Redaksi

News

Kawasan Kota Lama Surabaya belakangan ini sedang menikmati fase kebangkitan keduanya. Gedung-gedung peninggalan kolonial yang dulunya kusam dan terbengkalai, kini bersolek menjadi destinasi estetik favorit anak muda. Setiap akhir pekan, jalanan berbatu di sekitar Jembatan Merah hingga Jalan Rajawali dipenuhi oleh mereka yang berburu konten visual untuk media sosial. Namun, di balik segala gemerlap lampu kuning temaram dan kafe-kafe skena yang baru bermunculan, kita sering kali lupa bahwa jalanan ini pernah basah oleh darah perjuangan.

​Ada satu bangunan ikonik yang menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah kedaulatan: Plaza Internatio. Di gedung bergaya Eropa inilah, 81 tahun yang lalu, sebuah peristiwa monumental terjadi. Tewasnya perwira militer Inggris, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby pada 1945 di titik ini menjadi pemantik pertempuran heroik 10 November yang menggetarkan dunia.

​Dan entah kebetulan atau sebuah rancangan semesta yang sempurna, mulai Senin, 12 Oktober 2026 ini, tembok-tembok bersejarah Plaza Internatio kembali dihidupkan oleh narasi heroisme. Namun kali ini, heroisme itu tidak dihadirkan lewat desingan peluru, melainkan melalui bidikan lensa kamera.

​Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA melalui kolaborasi apik antara Redaksi Foto, ANTARA Biro Jawa Timur, dan Pemerintah Kota Surabaya, menyulap area ini menjadi sebuah ruang pameran fotografi jurnalistik bertajuk "Trisula Garda Nusantara". Pameran ini digelar sebagai bentuk perayaan memeriahkan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI).

​Lebih dari Sekadar Pameran Alutsista

​Ketika mendengar kata "TNI" atau "Militer", apa yang pertama kali terlintas di kepala kita? Sebagian besar dari kita mungkin akan langsung membayangkan barisan tank baja, pesawat tempur canggih, senjata laras panjang, atau wajah-wajah prajurit garang dengan camouflage (seragam loreng) yang sedang latihan perang.

​Stereotip itu coba didobrak melalui 81 karya foto jurnalistik terbaik yang dipamerkan di sini. Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, yang hadir langsung di lokasi pameran menegaskan sebuah pesan fundamental: sejatinya, pilar terkuat dari militer kita bukanlah senjatanya, melainkan ikatan batinnya dengan rakyat.

​"Tugas terpenting TNI adalah kembali ke rakyatnya. Itu yang kita gambarkan melalui foto-foto ini, bagaimana TNI masuk dalam hal-hal fundamental bagi kehidupan masyarakat. Meskipun dilengkapi alutsista canggih, jati diri mereka tetap bagian dari rakyat," ujar Benny.

​Melalui pameran ini, kita diajak melihat wajah lain dari para penjaga kedaulatan. Foto-foto yang disajikan menangkap momen-momen saat seragam loreng itu kotor oleh lumpur saat mengevakuasi korban bencana alam. Kita melihat tangan-tangan kekar yang biasanya memegang senapan, kini memegang kapur tulis untuk mengajar anak-anak di pulau terluar, atau mendistribusikan bantuan gizi ke pelosok desa.

​Hal ini sejalan dengan visi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang turut mendukung penuh agenda ini. Lewat program Public Service Obligation (PSO), negara berupaya menyebarkan informasi yang mencerahkan. Sekretaris Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Fouri Gesang, menyebutkan bahwa kedaulatan tidak selalu berarti angkat senjata. "Kita tidak hanya menampilkan penguatan kedaulatan melalui kekuatan militer, tapi juga bagaimana TNI bersatu padu bersama masyarakat, seperti melakukan perbaikan gizi dan pendidikan di daerah-daerah tertentu. Harapannya, masyarakat bisa melihat bahwa bersama tentara dan rakyat, negara itu hadir," jelasnya.

​Menerjemahkan Makna "Trisula" dalam 81 Bingkai Emosi

​Pemilihan nama "Trisula Garda Nusantara" sendiri bukanlah tanpa alasan filosofis. Ketua Panitia Pameran, Mochamad Risyal Hidayat (atau yang akrab disapa Icang di kalangan jurnalis Jawa Timur), menjelaskan bahwa trisula adalah representasi dari tiga matra yang menjadi tulang punggung pertahanan negara: Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

​Namun, trisula di sini tidak ditafsirkan sebagai senjata penyerang, melainkan alat pengabdian. "Tak hanya fungsi pertahanan, tiga matra tersebut nyatanya juga memiliki peranan di berbagai bidang, dari layanan pengobatan, pengembangan SDM di daerah terluar, hingga mencetak prestasi olahraga. Semuanya direpresentasikan melalui imaji rekaman jurnalis ANTARA," terang Icang.

​Menyaring puluhan ribu arsip foto jurnalistik menjadi hanya 81 karya (menyesuaikan usia TNI tahun ini) jelas bukan pekerjaan mudah. Di sinilah sentuhan magis sang Kurator, Wahyu Putro Arinto, bermain. Wahyu sangat ketat dalam menyeleksi; ia tidak sekadar mencari foto yang teknisnya tajam atau komposisinya sempurna, tetapi mencari foto yang "berbicara".

​"Proses kurasi ditekankan pada kekuatan cerita, momen, dan emosi," jelas Wahyu. Pilihan Wahyu menyandingkan foto ketangguhan operasi militer secara berdampingan dengan foto prajurit yang tersenyum saat berinteraksi dengan warga desa menciptakan kontras yang sangat puitis.

​Pemilihan Plaza Internatio sebagai venue juga merupakan bagian dari strategi kurasi tersebut. Menurut Wahyu, bobot historis tewasnya Jenderal Mallaby di tempat ini diharapkan mampu menjadi mesin waktu yang mengobarkan semangat nasionalisme pengunjung, khususnya generasi muda yang kini mulai memadati Kota Lama.

​Ruang Belajar Estetika Jurnalistik

​Bagi kalian yang suka hunting foto atau sekadar penikmat visual, pameran yang merupakan penutup rangkaian roadshow nasional (sebelumnya di Yogyakarta dan Jakarta, sebelum nanti ditutup di Solo) ini adalah agenda wajib minggu ini. Pameran dibuka secara gratis untuk publik hingga Sabtu, 17 Oktober 2026.

​Menariknya, panitia paham betul bagaimana cara berinteraksi dengan audiens Gen Z. Mereka tidak membiarkan pengunjung hanya datang, melihat, dan pulang. Ada aktivasi kreatif berupa lomba mini vlog on the spot yang menantang kreativitas content creator lokal. Puncaknya, ada "Kelas Jumat ANTARA"—sebuah sesi sharing eksklusif tentang foto jurnalistik yang akan diisi langsung oleh Pewarta Foto Associated Press (AP Photo), Trisnadi, serta Kuwadi Kuat dari Dinas Penerangan Korps Marinir. Perpaduan antara ilmu jurnalisme internasional dan ketangguhan lapangan militer!

​Melihat karya-karya di Plaza Internatio ini seolah menjadi pengingat bagi kita. Di saat kita bisa cangkruk dengan tenang di kafe, mengetik artikel ini dari balik layar gawai, atau sekadar berlari pagi menikmati udara Surabaya, ada ribuan prajurit di perbatasan, di laut lepas, dan di udara yang merelakan waktunya jauh dari keluarga demi memastikan rutinitas kita tetap aman.

​Nah, mari bahas! Kalau kalian jalan-jalan ke kawasan Kota Lama Surabaya, seberapa sering sih kalian mengamati detail bangunan bersejarahnya dan membayangkan peristiwa masa lalu di sana? Buat yang suka fotografi, genre foto apa yang menurut kalian paling menantang: human interest, foto aksi/olahraga, atau foto jurnalistik di area bencana?

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Sabtu, 10 Okt 2026 21:18 WIB | Ekonomi dan Bisnis

BRI Surabaya Dukung UMKM Pasar Keputran Lewat WiFi untuk Transaksi QRIS BRI

Fasilitas WiFi yang telah beroperasi sejak peluncurannya tersebut dihadirkan guna mendukung kelancaran aktivitas transaksi masyarakat ...
Sabtu, 10 Okt 2026 20:09 WIB | Ekonomi dan Bisnis

Terminal Teluk Lamong Raih Dua Penghargaan Nasional Usai Lima Tahun Bersama Pelindo

Terminal Teluk Lamong meraih dua penghargaan nasional atas inovasi pelabuhan berkelanjutan dan komunikasi korporat pada Oktober 2026. ...