17 Tahun Bonek Green Army: Saat Suporter Sepak Bola Ngajak "Manifesting" Jalur Langit
SURABAYA, Maribahas.com - Kalau kita mikir jadi suporter sepak bola itu cuma sebatas datang ke stadion, teriak-teriak selama 90 menit, lalu pulang saat peluit panjang berbunyi, sepertinya kita harus melihat lebih dekat kultur di Surabaya. Di sini, mendukung klub lokal bukan sekadar hobi akhir pekan, melainkan cara untuk merawat keluarga kedua.
Jumat (9/10/2026) malam kemarin, komunitas Bonek Green Army baru saja membuktikan hal itu. Mereka merayakan hari jadinya yang ke-17. Menariknya, perayaan ini tidak digelar di gedung mewah yang kaku, melainkan di kediaman Abah Johan, salah satu sesepuh di Kapas Madya Barat.
Ada tradisi potong tumpeng, doa bersama, dan tentu saja, ujungnya adalah nongkrong sambil nonton bareng (nobar). Sangat membumi, tapi justru di situlah letak nyawa "Seduluran Saklawase" (persaudaraan selamanya) benar-benar terasa.
Semesta seolah ikut merayakan ulang tahun ke-17 ini. Di layar kaca malam itu, Persebaya sukses membungkus kemenangan 1-0 melawan Isen Mulang FC lewat eksekusi penalti Alex Martins. Kemenangan ini praktis bikin suasana tumpengan makin pecah.
Tapi, bagian paling menarik dari malam itu justru datang setelah pertandingan usai. Saat sesi diskusi santai, Purwanto atau yang akrab disapa Cak Pur selaku Ketua Green Army, melempar sebuah pesan yang kalau ditelaah pakai bahasa Gen Z sekarang, ini adalah bentuk manifesting tingkat tinggi.
"Persebaya juara Liga 2026. Ini bukan sebuah beban bagi Persebaya, tapi Persebaya tinggal menjemputnya. Yakini saja," ujar Cak Pur malam itu.
Ia tidak menuntut dengan kemarahan, melainkan mengajak semua anggota untuk memakai "jalur langit". Cak Pur meminta seluruh suporter untuk bangun setiap hari dan memasukkan keyakinan juara itu ke dalam pikiran.
"Biarkan semesta bekerja. Wes pokoke full tekad dan full yakin," tambahnya.
Obrolan warung kopi ala Cak Pur ini sebenarnya menyentuh filosofi Law of Attraction yang sangat relevan buat anak muda zaman sekarang. Kalau kita terus memancarkan energi positif dan optimisme yang solid, perlahan tim di lapangan juga akan tertular semangat juangnya.
Mempertahankan sebuah komunitas hingga usia 17 tahun jelas bukan perkara gampang. Ada banyak friksi dan dinamika antar-generasi yang pasti terjadi. Tapi, dengan jangkar persaudaraan dan tekad kolektif seperti ini, perbedaan itu justru melebur.
Nah, mari bahas! Kalau kalian sendiri, punya ritual manifesting khusus nggak buat mendukung tim kebanggaan atau komunitas kalian? Apakah kalian tim logis yang cuma lihat statistik di atas kertas, atau percaya bahwa energi dan keyakinan suporter dari luar lapangan juga bisa bikin "semesta bekerja"?
Editor : Redaksi