Bangga Pakai Motifnya, Tapi Yakin Itu "Batik" Beneran?
Setiap tanggal 2 Oktober, timeline medsos sampai jalanan mendadak penuh dengan orang-orang yang mengenakan motif parang hingga megamendung. Seru sih melihatnya. Tapi mari jujur-jujuran, hari ini kita pakai batik murni karena dorongan sendiri, atau sekadar gugur kewajiban karena ada surat edaran dari HRD kantor dan kampus?
Buat banyak dari kita—terutama Milenial dan Gen X—batik itu seringnya mentok jadi "seragam kaku". Pakaian ini baru dikeluarin dari lemari kalau hari Jumat tiba atau buat dresscode wajib kondangan. Identik dengan kerapian, kedewasaan, dan kewibawaan. Nggak salah memang, tapi memenjarakan batik cuma di ruang-ruang formal bikin kain ini terasa berjarak dari kehidupan sehari-hari kita.
Tapi coba lihat Gen Z sekarang. Lewat tren #Berkain, mereka sukses mendobrak aturan main itu. Kain tradisional sekarang asyik dipadukan sama sneakers, jaket denim, sampai kacamata hitam retro buat nongkrong di kafe atau kampus. Batik turun ke jalanan, jadi bagian dari ekspresi diri yang cair, bebas, dan nggak harus nunggu acara resmi.
Sekilas, fenomena ini bikin kita lega. Wah, budaya kita lestari nih, bisa dipakai lintas generasi dan kelas sosial! Motif batik jadi gampang banget ditemuin, dari butik mal mewah sampai lapak pasar kaget dengan harga miring.
Namun, di balik selebrasi tren ini, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita bahas, apakah yang lagi kita rayakan ini benar-benar "batik", atau cuma kain pabrikan yang kebetulan di-print pakai motif batik?
Gampangnya gini. Kalau kita ngomongin sejarah dan pakemnya, batik itu bukan sekadar gambar di atas kain. Batik adalah soal proses—teknik merintang warna menggunakan malam (lilin) dengan canting atau cap.
Ada ketelitian, kesabaran, dan jejak tangan manusia di setiap meternya. Nah, ketika mesin cetak tekstil pabrik bisa nge-print ribuan meter kain bermotif serupa dalam sekejap tanpa setetes pun malam, secara teknis yang dihasilkan adalah "kain bermotif batik". Bukan batik beneran.
Kita nggak sedang menyalahkan produk industri atau orang yang butuh pakaian terjangkau. Punya opsi baju murah itu penting. Masalahnya muncul ketika kita terlalu sibuk merayakan seberapa viral motif batik beredar, sampai lupa mengecek nasib para pembatik asli.
Di tengah gempuran fast fashion dan kain print pabrikan, para pengrajin tradisional di sentra-sentra batik ini sedang berjuang keras. Mereka dipaksa berkompetisi dengan mesin dalam arena yang cuma mengukur seberapa cepat dan murah sebuah barang diproduksi.
Bayangkan kalau generasi muda di keluarga pembatik ini akhirnya menyerah, mikir bahwa nerusin tradisi nggak bisa ngasih makan, lalu milih ganti profesi. Ketika satu pembatik berhenti beroperasi, yang hilang bukan cuma produksi kain, tapi putusnya mata rantai pengetahuan kebudayaan kita yang nggak bisa digantiin oleh mesin.
Demokratisasi budaya itu nggak cukup cuma diukur dari seberapa gampang kita beli kain motif batik di e-commerce. Pelestarian yang utuh harusnya juga ngasih ruang buat para penjaga tradisi ini untuk hidup layak dari karyanya.
Mengenakan kain bermotif cetak buatan pabrik sama sekali bukan dosa. Baju itu punya pasarnya sendiri dan bisa jadi pintu masuk buat anak muda kenal ragam motif Nusantara.
Menggabungkan kain tradisional dengan sneakers juga langkah awal yang keren banget. Tapi, kebanggaan itu bakal jauh lebih berbobot kalau kita sadar dari mana asal kain yang kita pakai, paham bedanya cetak pabrik dengan cap/tulis, dan menghargai tangan-tangan yang membuatnya.
Nah, setelah tahu realitas di balik industri ini, gimana menurut kalian? Kalau lagi pengen nambah koleksi buat OOTD santai, mending beli kain print pabrik yang murah dan gampang dicari, atau rela nabung dikit buat beli batik cap/tulis asli demi napas pengrajin lokal? mari bahas!
Editor : Redaksi